HARIANTRIBUANA.CO, Ketapang – Warga Sei Awan Kiri, Darusadi mengeluhkan limbah dari perusahaan CV Tirta Prima Abadi yang memproduksi air mineral HS68 meluber kepekarangan rumahnya.
Ia mebuding bahwa limbah air yang bercampur dengan dugaan Bahan Berbahaya Beracun (B3) sering meluber dipekarangan rumahnya yang berdampingan dengan perusahaan tersebut sudah bertahun-tahun dia rasakan.
“Limbahnya itu air bercampur seperti adanya kandungan minyak solar, dan bekas cerbi, akibatnya tanam tumbuh yang ada dipekarangan rumah saya menjadi kering dan mati,” akunya.
Selain itu, ia menyebutkan bahkan hewan ternak miliknya seperti ayam dan bebek miliknya tidak bisa berkembang biak lantaran telur-telur hewan ternaknya menjadi membusuk tidak bisa mengeram lantaran terendam oleh limbah milik perusahaan CV Tirta Prima Abadi.
Menurutnya tidak hanya bentuk limbah cair yang dibuang perusahaan ke pekarangan rumahnya, melainkan ada juga limbah padat seperti, bekas tutup botol, dan botol, bahkan tisu bekas dipakai karyawan juga menjadi tempat sampah pembuangan.
Darusadi mengaku keluhannya ini sempat dimediasikan oleh kepala desanya dengan pihak perusahaan, namun dari hasil mediasi tidak ada kesepakatan antara dirinya dengan perwakilan pihak perusahaan terutama kerugian materil yang dialaminya.
“Terutama mengenai ganti rugi tanam tumbuh dan hewan ternak saya yang tidak bisa berkembang biak. Pihak perusahaan CV Tirta Prima Abadi melalui perwakilannya yang hadir tidak mau bertanggungjawab, malah mereka hanya mau memperbaiki pintu saluran limbah mereka yang rusak dan akan menegur karyawan jangan membuang sampah bekas limbah padat ke pekarangan saya,” terangnya.
Saat Dikonfirmasi, Bos HS68 Chandra menyebutkan bahwa persoalan tersebut sudah selesai dan jika terdapat ketidakpuasan itu dianggapnya wajar.
“Hal ini sudah saya arahkan untuk bicarakan para pihak di desa dan sudah clear adapun ada ketidakpuasan itu menurut kami wajar saja karena yang dipermasalahkan sebenarnya sudah jelas, andai pihak terkait tidak puas itu luar kuasa kita lagi,” ungkapnya, Selasa (06/3/2024).
Selain itu, ia menepis isu bahwa yang dikeluhkan warga selama ini bukan lah limbah yang berasal dari prodak HS68 miliknya.
“Mediasi dalam arti mencari kebenaran dilapangan, dan ternyata yang dimaksud limbah adalah air hujan genangan terjadi karena curah hujan,” tandasnya.


























